Beberapa pekan terakhir ini, tanah kelahiran saya, Sumatera Barat, kembali dilanda banjir bandang yang memporak-porandakan kehidupan ribuan warga. Derasnya arus sungai yang meluap, suara gemuruh bukit yang longsor, dan deburan air yang menghantam rumah tetangga masih terbayang jelas dalam ingatan saya.
Oleh: Sulthan Ghazi
Seorang mahasiswa yang juga menjadi bagian dari korban banjir bandang Sumatera Barat
Mjnews.id – Ketika air mencapai pinggang dan bau lumpur menyengat tiap sudut kampung, saya bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar siap hidup di negeri yang terus tersapu bencana?
Bencana banjir bandang ini bukan hanya sekadar cerita statistik. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan korban meninggal dan ratusan ribu orang mengungsi akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara angka yang terus bertambah seiring waktu.
Sebagai mahasiswa yang terbiasa membaca teori mitigasi bencana di kelas, kenyataan empiris di lapangan terasa jauh lebih menyakitkan. Di kampung halaman, rumah yang dulunya berdiri tegak kini hanyalah puing tersapu arus, jalan besar yang menghubungkan sekolah dan pasar terputus, dan sekolah tempat saya pernah belajar kini berubah menjadi ruang evakuasi sementara. Saya merasakan betul bagaimana hidup berubah seketika karena kombinasi faktor alam dan manusia yang tak kunjung diselesaikan secara serius.
Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem
Para pakar menjelaskan bahwa banjir bandang yang kita alami bukan hanya sekadar dampak dari hujan deras. Meteorologi mencatat intensitas curah hujan mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh fenomena atmosfer seperti Siklon Tropis Senyar yang melintas di Selat Malaka.
Namun, yang membuat dampak ini begitu hebat adalah kondisi lingkungan yang semakin rapuh. Penelitian dan pernyataan pakar hidrologi menunjukkan bahwa degradasi hutan di daerah hulu sungai mengurangi kemampuan alam untuk menyerap air hujan, sehingga aliran air langsung meluncur ke pemukiman di hilir.
Sejumlah organisasi lingkungan juga menyoroti bahwa jutaan hektar hutan di Sumatra telah dibuka untuk pertanian, perkebunan, dan pertambangan, memicu hilangnya zona penyangga alami yang seharusnya melindungi wilayah dari dampak ekstrem cuaca.
Ketika kita berbicara tentang banjir bandang, kita sebenarnya berbicara tentang peristiwa yang lahir dari kombinasi cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang telah puluhan tahun dibiarkan terjadi.
Ketidaksiapan Sistem: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Dari sudut pandang saya, kekecewaan terbesar adalah bagaimana respon sistem terhadap bencana ini masih terlalu reaktif, kurangnya langkah preventif yang terencana matang. Ketika banjir sudah datang dan rumah sudah hanyut, barulah bantuan logistik digerakkan, truk tangki air dan bantuan medis didistribusikan, dan laporan media terdengar nyaring.
Tapi kapan sistem tanggap darurat dibangun jauh sebelum bencana itu datang?
Masyarakat di daerah kami sering kali menyampaikan rasa frustrasi karena informasi peringatan dini seperti sirene atau aplikasi mitigasi jarang terdengar efektif di tingkat komunitas. Banyak warga baru tahu sudah kebanjiran ketika air sudah mencapai dada.
Sebagai seorang mahasiswa yang paham pentingnya kesiapsiagaan, saya bertanya: apa gunanya pembelajaran mitigasi bencana jika tak diimplementasikan dengan sistem yang kuat di setiap desa dan kampung?












