Untuk lebih lengkapnya, berikut tulisan yang dibagikan akun Sutan Ali Harahap:
AGEN PERUBAHAN ATAU KUCLUK PENGUASA?
Faktor yang membuat Padang Lawas masih terus terjerembab dalam ‘kegelapan’ adalah karena masih bercokolnya pemuda-pemuda bermental kacung di lini organisasi mahasiswa. Oknum-oknum pemuda ini telanjur dianggap berperan sebagai agen perubahan untuk menyuarakan ragam keresahan kabupaten berpenduduk ± 260 ribu jiwa itu.
Benarkah pemuda-pemuda ini menyuarakan kekalutan kondisi daerahnya? Apa yang mereka bawa saat demo di ibu kota?
Pertanyaan terpenting adalah apa motif di balik manuver bernuansa populis yang dibalut dengan aksi narsis ini?
Para pemuda–khususnya mereka yang berstatus mahasiswa–Palas di ibu kota sangat paham maksud dan tujuan dari serangkaian aksi demo pentolan-pentolan Himpunan Mahasiswa Padang Lawas (Himapalas). Sayangnya, sebagian mereka bungkam karena hal ini terlalu memalukan untuk diungkap ke publik.
Mereka tahu bahwa demo yang dijepret kemudian di-share ke balik layar-layar smartphone Anda hanyalah aksi teatrikal mirip demo, alih-alih demo sungguhan. Anda mungkin akan terkejut kala mengetahui bahwa ternyata para pemuda (yang lebih mirip om om) bermasker dan mengenakan topi pet itu ada yang berasal dari Indramayu, Karawang, Jakarta Utara, Ambon, hingga Kupang.
Ya. Daerah-daerah ini adalah penyumbang terbanyak manusia bayaran yang disewa untuk demo-demoan di depan Gedung KPK, Mabes Polri, DPR RI, Bawaslu, Kemendagri, bahkan mungkin DKPP. Itu mengapa setengah wajah mereka selalu akan tertutup selama aksi–guna melindungi agar ibu dan istri mereka di kampung tidak syok melihat kerjaan suami dan anaknya mengangkat aspirasi daerah orang lain, sementara kebutuhan dapur tak terpenuhi.
Mengapa tidak ada pemuda dari Palas?
Sebagian pemuda Palas yang waras sudah muak dengan aksi-aksi murahan seperti ini. Sebagian yang masih bermental kacung tak cukup punya keberanian untuk tampil karena rabun persoalan.
Berkali-kali saya mendengar keluhan, “Sebenarnya yang mau didemo itu soal apa sih? Hurang paham au dabo.”
Sang koordinator yang juga demisioner Ketum Himapalas itu terlihat pening saat bercerita kepada rekan-rekannya. Soalnya, banyak juniornya yang gagal paham ‘masalah huta’. Ia pun bingung menjelaskannya karena hanya memahami persoalan secara parsial.
Alaahle amang… Bagaimana kalian mau menyuarakan aspirasi rakyat Palas jika tak punya pemahaman yang utuh?
Setelah demo, biasanya akan ada rapat (pura-pura) penting di kafe-kafe Ciputat. Sesekali mereka bertemu di Legoso, sebuah tempat di mana sang demisioner pernah menjadi marbot masjid. Tak lama berselang, isi rekening pribadi pun akan bertambah.
Pekerjaan manipulator memang sebuah ironi. Banyak tukang olah di organisasi.
Oh iya, jangan kalian bayangkan bahwa hanya dengan modal poster demo seharga cetak Rp15 ribu-an sudah menjadi bukti bahwa keresahan kalian di daerah terjawab di Jakarta. Kalian salah!
Ada banyak kepentingan penguasa lokal yang menumpang di demo ini. Termasuk AZP yang kini mengkudeta TSO secara pelan-pelan, bagai dokter gigi yang ingin mencabut gigi pasiennya. Pelan, tapi sakit.












