Satu hal yang perlu juga Anda pahami bahwa seringnya tampil sosok pemuda alumni Ushuluddin UIN Jakarta ini sebagai koordinator aksi tak lantas diartikan dialah agen perubahan untuk Padang Lawas.
Mengapa kalian tak menggali informasi lebih dalam hingga sampai pada kesimpulan bahwa pemuda yang dulunya dikenal lugu di Ma’had al-Jami’ah UIN Jakarta ini merupakan kucluk penguasa? Ia memang mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, tapi kini sudah banyak digerakkan dengan ambisi.
Sekian lama mengais rezeki dari demo bayaran, bukannya mendapat dukungan moril, si ketum justru makin tak disukai oleh para juniornya. Dan, tahukah kalian ia mengalami nasib paling memalukan dalam sejarah hidupnya (saya harap ini tak diketahui oleh perempuan yang baru ia nikahi).
Sekitar awal 2018 menjelang Pilkada Palas, alumni Ponpes Babul Hasanah ini bersama seorang pentolan aktivis Palas di Pekanbaru, ATH (inisial nama, red), mengadakan sebuah pertemuan terselubung dengan Tim Pemenangan Tondi Roni Tua.
Tondi Roni Tua, atau yang biasa disebut Prabowo-nya Palas (karena 3 kali kalah Pilkada), meminta kedua pemuda tadi untuk menyusun aksi demo anti-TSO di depan gedung merah putih KPK. Bisa ditebak, propaganda murahan ini adalah kampanye hitam yang ingin dilancarkan kubu Tondi-Syarifuddin untuk menggembosi elektabilitas TSO-AZP.
Dengan tawaran yang menggiurkan, kedua pemuda itupun buru-buru mengadakan rapat pra-aksi, mengulik data kasus-kasus TSO, menyusun narasi, mengatur strategi lapangan, hingga mempersiapkan alat serta poster-poster aksi bernuansa negatif untuk menyerang Paslon yang menjadi target.
Singkat cerita, pemuda yang masih berstatus mahasiswa UIN Jakarta (hampir DO) itu melakukan penggalangan. Mengajak para anggota Himapalas untuk ikut berdemonstrasi dengan bayaran yang sudah ‘dipotek’. Alih-alih menyambutnya dengan positif, mereka justru enggan turun ke lapangan karena menilai aksi itu terlalu menjijikkan.
“Karena bukan kultur kami melakukan demo-demo bayaran seperti itu,” ujar seorang demisioner yang tak mau disebutkan namanya saat saya wawancarai.
Sekelompok anggota Himapalas lantas mengeluhkan tindakan pemuda itu kepada mantan Ketum mereka, H (inisial, red). H yang mendengar cerita juniornya itu seketika naik pitam. Gusar sejadi-jadinya. Tanpa pikir panjang H bersama gengnya pun langsung mengadukan kabar pahit ini kepada Ketua IKABAYA yang juga pembina Himapalas, NS.
NS, seorang pebisnis yang terpilih sebagai ketua IKABAYA karena mengundang massa bayaran non-Palas, ikut gusar. Pria tua beristri muda ini langsung memanggil pemuda tadi dan menyidangnya. Hasil sidang etik menyimpulkan bahwa pemuda ini dinyatakan telah membawa organisasi Himapalas ke ranah politik praktis. Oh tidak, lebih tepatnya ke arah politik kepentingan.
“Setelah itu dia dimakzulkan oleh para junior dan komplotan Hasahatan,” kata seorang mantan pengurus Himapalas yang dekat dengan H.
Untuk diketahui, H sendiri bukanlah sosok yang bebas dari skandal organisasi. Ia dikenal hobi memainkan anggaran jika ditunjuk sebagai panitia acara-acara IKABAYA. Kalian yang merupakan aktivis Himapalas pasti tak akan pernah lupa bagaimana H menilap sisa anggaran acara Milad ke-50 IKABAYA pada 2017 silam.
Duit-duit yang harusnya dikembalikan ke kas IKABAYA itu justru digunakan untuk merenovasi sebuah rumah di gang Dahu, Legoso, yang diklaim sebagai sekretariat Himapalas. Nahas. Rumah itu bukanlah sekret, tapi kontrakan pribadi. H sengaja menjadikannya sebagai tempat kumpul anggota Himapalas untuk menyiasati anggaran yang turun dari Pemkab kepada para pengurus baru.
Pesan dari tulisan ini adalah, janganlah terpaku pada satu sosok pemuda seolah dialah pembawa misi mulia Padang Lawas. Menjadikannya sebagai idola hanya akan membuat Anda kecewa karena terlalu menempatkan harapan pada orang yang salah. Hati-hati dengan ilusi fokus.
Coba Anda tanyakan pada mereka yang sudah demisioner di Himapalas, ke mana perginya jutaan cuan yang sudah digelontorkan Pemkab? Mengapa hingga kini tak ada sekret yang terbangun?
Temukan jawabannya di Ciputat….
Note: sampaikan kisah ini kepada para generasi penerus Palas, anak dan boru kalian, koum-koum kalian, siapapun yang akan menapaki pendidikan ke perguruan tinggi. Jangan sampai mereka menjadi korban manipulasi senior Himapalas berikutnya.
نعوذ بالله من ذلك, ثم نعوذ بالله… 🤲
Tulisan ini sebelumnya tayang di Grup Facebook Kowar Palas. namun tulisan tersebut diduga dihapus atau di-take down tanpa pemberitahuan alasan.
Berikut link postingan di grup Facebook KoWar Palas yang sudah di-take down: https://m.facebook.com/groups/659855731157308/permalink/1557298244746381/?mibextid=Nif5oz.
(***)












