Ketua IDI Sumbar, Pom Harry: Tetap 3M Meski Vaksin Sudah Ada

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 7 Maret 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
29.706 249 28.022 654
sumber: corona.sumbarprov.go.id

loading...

Ketua IDI Sumbar, Pom Harry: Tetap 3M Meski Vaksin Sudah Ada

Jumat, 18 Desember 2020 | 10:00 WIB Last Updated 2020-12-18T03:00:01Z
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumatera Barat, dr. Pom Harry. (ist)

mjnews.id - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumatera Barat, dr Pom Harry mengajak masyarakat tetap patuhi protokol kesehatan (prokes) 3M, walaupun vaksin corona, Sinovak sudah ada.


Diakuinya, kedatangan Vaksin Sinovak merupakan harapan terbesar Indonesia menghadapi Covid-19. Namun, masyarakat jangan berfikir kalau vaksin tiba, corona bisa hilang. Itu adalah pemikiran yang salah. 


Justru, tegasnya, masyarakat jangan 'kendor' untuk patuhi protokol kesehatan 3M. Mulai dari memakai masker, menjaga jarak hingga mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer. Prokes itu adalah pemutus mata rantai penyebaran corona ditengah masyarakat. 


"Intinya kita harus beradaptasi dengan kebiasaan baru (new normal) selama wabah corona," tegas Pom yang mendukung upaya pemerintah dalam mencegah berkembangnya wabah ini di Indonesia.


Dijelaskannya, kalau vaksinasi Covid-19 suatu usaha preventif pemerintah menyelesaikan permasalahan Corona. Ada empat langkah dalam prinsip kesehatan, yakni promotif bagaimana perubahan prilaku sehat, preventif (mencegah), kuratif (mengobati) dan rehabilitasi (kembali) menyehatkan kembali seperti sebelum sakit.


Virus itu solusinya ada dua yakni vaksinasi dan obat-obatan. Dua-duanya belum tuntas. Sekarang vaksin telah ditemukan.


"Untuk pendistribusiannya kita tunggu protokol dari Kemenkes. Bagaimana rencana teknis dinas kesehatan provinsi, kabupaten dan kota. Karena pendistribusian sangat menentukan keberhasilan vaksinasi sampai ke masyarakat dengan baik dan tercapai semua target yang dibutuhkan," jelasnya.


Tantangan terbesar saat ini, kata Pom adalah membuat distribusi vaksin bisa terpenuhi. Mulai dari tranformasi, pemberian vaksin hingga evaluasi pemantauan keluhan dari kelompok umur yang mendapatkan vaksinasi, mulai dari usia 18 hingga 59 tahun.


Dikatakannya, dibutuhkan kolaborasi sangat erat dan dukungan lintas sektoral. Kalau dinas kesehatan menghadapinya dengan kemenkes saja, tentu tidak sanggup dan target pun tak tercapai. Diperlukan kerjasama Gugus Tugas Covid-19 baik tingkat pusat, provinsi dan kota tugasnya untuk itu. Dengan harapan, kekebalan virus itu terhadap masyarakat akan muncul.


Sehingga mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap dampak positif yang ditimbulkan dari vaksin tersebut.


"Kekhawatiran masyarakat terhadap dampak yang ditimbulkan dari vaksin itu adalah hal yang wajar. Sebab, kita tidak tahu kapan pandemi ini berakhir," jelasnya.


Solusi menghilangkan kekhawatirkan tersebut, adalah dengan mengembalikan kepercayaan mereka lagi. Dibutuhkan panutan mereka, seperti tenaga kesehatan, kepala daerah dan pimpinan lembaga, tokoh masyarakat, tokoh agama memberikan edukasi tentang vaksin.


(do/eds)


loading...

×
Berita Terbaru Update