Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 14 Juni 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
47.885 622 43.496 1.089
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Begini Benarlah Pengaduan Pengusaha Ritel ke SMI, Setiap Hari Satu Toko Tutup

Sabtu, 10 April 2021 | 14:02 WIB Last Updated 2021-04-10T07:02:00Z
Ilustrasi.

MJNews.id - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengumumkan setiap harinya ada satu toko ritel yang tutup akibat terdampak Covid-19. Hal itu disampaikan Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI).


Roy meminta pemerintah membantu sektor usaha ritel salah satunya memberikan stimulus yang membuat masyarakat kembali berbelanja. “Di Bali ada kami 2.000 anggota, setiap hari kami hitung dari sisi asosiasi, hampir 1 toko tutup setiap hari, di seluruh Indonesia termasuk di Bali,” katanya dalam acara Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional secara virtual, Jumat 9 April 2021.


Dalam waktu 3 bulan, dia mencatat, sudah ada 90 toko ritel yang tutup termasuk super market, mini market, maupun department store. “Ini memperhatikan karena kita punya tenaga kerja 2 juta dan kita absorb kebutuhan pokok dan sehari masyarakat, kita bahkan jaga tingkat ketersediaan barang,” jelasnya.


Dengan kondisi seperti itu, Roy meminta kepada Sri Mulyani mengenai vaksin anggaran berupa stimulus yang mampu menjamin keberlangsungan usaha ritel tanah air. “Industri banyak yang sakit termasuk kami,” katanya dikutip detikFinance.


“Kami butuh vaksinasi keuangan selain vaksinasi pandemi. Karena tanpa itu kemana, kita punya 7 juta UMKM yang dagang di ritel. UMKM nggak bisa dagang karena toko tutup,” sambung dia.


Menanggapi itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pemerintah sudah menyiapkan vaksin keuangan melalui belanja negara yang mencapai Rp2.750 triliun di tahun 2021.


Menurut dia, anggaran belanja ini tersebar ke banyak channel yang bisa dimanfaatkan untuk para pelaku usaha sektor ritel tanah air. “Keseluruhan belanja pemerintah ditujukan untuk bisa membuat daya tahan dari sektor perekonomian di Indonesia,” kata Sri Mulyani.


Sangat Berat

Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), Anggara Hans Prawira buka-bukaan soal dampak pandemi Covid-19 terhadap ritel terutama fast moving consumer goods (FMCG) seperti Alfamart.


Menurut Anggara, dampak pandemi terhadap industri ritel sangat berat sekali. Paling terasa saat bulan-bulan Ramadhan, yang biasanya jadi masa panen, selama pandemi malah berubah jadi kebalikannya.


“Kita lihat perjalanan 2020, kita mengawali tahun 2020 dengan optimis, quarter pertama bagus sekali apalagi di bulan Maret pada saat itu untuk bisnis ritel mengalami panic buying, luar biasa animo masyarakat untuk berbelanja, tapi kemudian, pada masa-masa bulan Ramadhan itu sangat berat, padahal itu biasanya jadi masa panennya ritel, tapi di 2020 sangat berat,” ujar Anggara dalam acara CIMB Niaga Forum Indonesia Bangkit secara virtual, Selasa 6 April 2021 lalu.


Bulan-bulan selanjutnya pun tak berubah, daya beli masyarakat sepanjang 2020 yang lemah berimbas pada industri ini. Namun, perlahan daya beli masyarakat membaik. “Kita lihat dari Juli sampai Desember kita lihat daya beli termasuk juga industri ritel relatively lemah tetapi terus membaik sampai katakanlah 2020 akhir Desember,” sambungnya.


Hal itu membuat industri ini mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak 20 tahun terakhir. Industri ini, kata bos Alfamart, tak pernah sekalipun tercatat minus, namun di tahun 2020 untuk pertama kalinya tercatat minus cukup dalam.


“Kalau kita lihat data total market FMCG di Indonesia tahun 2020 itu kita mengalami kontraksi kurang lebih sekitar 5,9% sepanjang yang saya catat selama 20 tahun terakhir industri FMCG tidak pernah mengalami kontraksi, yang paling jelek itu tahun 2018, kita tumbuh sekitar 1%,” ungkapnya.


Hal ini terjadi karena adanya penurunan drastis pada daya beli masyarakat menengah ke bawah. “Kalau kita lihat memang kondisi pandemi mengapa terjadi penurunan industri, saya kira jelas ada penurunan daya beli, konsumen terutama di segmen middle low, tapi juga kita lihat adanya pembatasan-pembatasan sosial, dan ini memang harus kita lakukan demi mencegah penularan virus lebih lanjut,” kata bos Alfamart.


Tak cuma daya beli yang turun, rata-rata segmen menengah ke bawah juga beralih ke produk yang lebih terjangkau. “Kalau kita melihat middle, middle low segmen memang impact terhadap daya beli terlihat sekali, kita lihat mulai terjadi penurunan spending pasti frekuensi turun itu semua segmen turun frekuensinya tapi belanjanya lebih banyak tapi tidak pada segmen menengah bawah bahkan terjadi juga switching brand kepada brand-brand yang lebih affordable,” ujarnya.


Sedangkan daya beli segmen menengah ke atas tidak mengalami penurunan sama sekali, juga tidak melakukan alih produk bahkan cenderung meningkat. “Segmen middle up saya kira in term of spending tidak mengalami penurunan bahkan dalam banyak kasus naik, dan mereka tidak switching brand, tetap konsisten pada brand yang ada bahkan membeli dalam jumlah yang besar,” tuturnya.


Meski begitu, Anggara optimistis tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya, walaupun sempat terimbas kebijakan PPKM ketat di awal tahun yang mengharuskan toko-toko ritel dan lainnya tutup jam 7 malam. “Kita memasuki tahun 2021 dengan optimisme terutama ketika program vaksinasi dimulai, kita memandang ini sebagai kunci pemulihan ekonomi,” katanya.


“Saya kira per Maret situasi menjadi lebih baik ya, kita sangat optimis bahwa tahun 2021 harusnya bisa lebih baik dari 2020 keyakinan masyarakat kembali terlihat untuk berbelanja untuk spending kebutuhan sehari-hari,” sambung dia.


(***)


loading...

Iklan Kiri Kanan





×
Berita Terbaru Update