Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 17 Juni 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
48.441 628 44.295 1.108
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Ketika Mahyeldi Bersua Lawan Politik di Sekretariat AFTA

Senin, 07 Juni 2021 | 05:00 WIB Last Updated 2021-06-06T22:00:00Z
Gubernur Sumbar, Mahyeldi bersama Alex Indra Lukman (Ketua PDI-P Sumbar), Hidayat (Anggota DPRD Sumbar), Djoni (Ketua Yayasan AFTA), M. Irsyad (Dirut Bank Nagari) dan beberapa tokoh AFTA lainnya. (ist)

PADANG, MJNews.ID - Sore itu, Sabtu 5 Juni 2021, sekitar pukul 17.45 WIB, suasana di sekretariat AFTA (Alumni Fakultas Pertanian Unand), kawasan GOR Agus Salim Padang, kian ramai. Biasanya memang ramai juga. Tapi kali ini luar biasa, karena tanpa sengaja, tanpa dikondisikan, Gubernur Sumbar Mahyeldi tiba di sana.


Mahyeldi ditemani oleh Benny Warlis (yang juga Pj. Sekdaprov Sumbar) dan Syahrial Kamat (Kadis Pertanian Pemko Padang). Mereka semua memang sama-sama alumni Pertanian Unand. Benny angkatan 82, sedang Syahrial Kamat, angkatan 86, seangkatan dengan Mahyeldi.


Di sekre, yang sorenya cukup ramai, tampak hadir sejumlah pejabat dan mantan pejabat yang sudah punya nama. Misalnya Djoni (Ketua Yayasan AFTA dan mantan Kadis Pertanian Sumbar), Syahirman (mantan Kepala Dinas Pertanian Pemko Padang), Syafrizal (Kadis Pertanian Sumbar), Nasrizal (Plt. Kadis Koperasi dan UKM Sumbar).

Lalu, M. Irsyad (Dirut Utama Bank Nagari), Fadli Rustam (Dewas PDAM Sumbar), Zola Pandu (pengusaha), Feri Arlius (Dekan Fateta Unand), dan Erizal Syaf (pengusaha) dan lainnya. Mereka semua adalah alumni Pertanian Unand dari berbagai angkatan.


Alumni Pertanian Unand saja?


Tidak. Di Yayasan AFTA, cukup banyak tokoh menjadi bagian dari keluarga besar AFTA dan berandil membesarkan AFTA. Yang hadir dalam kesempatan itu, Hidayat (Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Partai Gerindra) dan Alex Indra Lukman (Ketua PDI-P Sumbar). Pengacara kondang Oktavianus Rizwa, Akmal (mantan Kadishub Sumbar), Suhardi Chan (pengusaha sekaligus politisi Golkar), Fachri Murad (mantan Sekdakab Solsel) dan banyak lagi.


Hampir tiap hari, di sekretariat AFTA yang juga dijadikan sebagai sekretariat DPP IKA FPUA itu, tidak pernah kosong. Sore hingga malam, selalu ramai. Paling tidak enam atau delapan orang. Kalau Sabtu, Minggu dan hari libur, puluhan orang datang ke sana.


Bagi Mahyeldi sendiri, bukan sekali itu saja ke sana. Sejak menjadi Wakil Ketua DPRD Sumbar tahun 2004 sampai sekarang selalu menyambangi sekretariat AFTA. Apalagi sejak dipercaya menjadi Ketum DPP IKA FPUA sejak 2014, Mahyeldi juga rutin ke sana. Tentu di sela-sela kesibukannya sebagai Wakil Walikota sampai Walikota Padang.


Sejak dilantik menjadi Gubernur Sumbar pada 25 Februari 2021, Mahyeldi rasanya sudah dua kali ke sana. Cukup luar biasa, di tengah kesibukan dan ekstra padatnya kegiatan yang dilakoni Mahyeldi sebagai Gubernur Sumbar.


“Assalamualaikum. Sore semua,” sapa Gubernur Mahyeldi dan dijawab oleh yang hadir, ”Waalaikum salam. Selamat sore juga Pak Gubernur.”


Gubernur Mahyeldi pun duduk di kursi. Semeja dengan beberapa tokoh yang sudah duluan tiba di sana. Yaitu Alex Indra Lukman, Hidayat, Djoni, Feri Arlis, Fadli Rustam, Syahrial Kamat dan sejumlah alumni lain. Di meja lainnya, duduk pula bersama-sama Benny Warlis, M. Irsyad, Syafrizal dan lainnya. Mereka bercengkrama dan bercanda.


Semejanya Mahyeldi dengan Alex dan Hidayat serta termasuk pula Erizal Syaf, sungguh menarik. Soalnya, setiap Pilkada mereka adalah lawan politik dan ‘saling serang’. 

Pada Pilwako Padang 2018, Alex sebagai Ketua PDI-P Sumbar, Hidayat sebagai Anggota DPRD Sumbar dari Gerindra dan Erizal Syaf sebagai Sekretaris Gerindra Padang ‘perang’ dengan Mahyeldi. Bahkan mereka termasuk lakon ‘melawan’ Mahyeldi. Sebab mereka mengusung dan berupaya memenangkan paslon yang mereka usung.


Dan teranyar adalah Pilgub 2020, lagi-lagi mereka berperang. Lebih panas, lebih sengit dan sangat alot. Sampai-sampai untuk menjaga marwah partai masing-masing dan paslon yang mereka usung, Alex, Hidayat dan Erizal tidak mampir ke sekretariat AFTA. Mahyeldi sebagai Ketum DPP IKA FPUA, maju di Pilgub 2020 yang diusung oleh PKS dan PPP.


Itu saat Pilgub. Setelah resmi dinyatakan menang oleh KPU dan dilantik oleh Presiden Joko Widodo, semua reda. Secara politik mereka tetap bersebarangan dan berbeda pendapat.


Hidayat sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumbar tetap kritis terhadap kebijakan Gubernur Sumbar. Begitu pula Alex, tetap menginstruksikan kadernya di DPRD Sumbar untuk mengkritik kebijakan Gubernur Sumbar. Mereka juga fair, kebijakan yang bagus dan menguntungkan rakyat juga didukung.


Tapi Sabtu sore itu bagaimana? Semua orang hebat itu bercengkrama dan diskusi ringan dan bagarah ala AFTA. Pas waktu shalat Magrib masuk, mereka juga shalat berjemaah dan Mahyeldi menjadi imam. Usai shalat, kembali nyantai sambil makan sate. Tidak ada permusuhan, semua bertegur sapa.


Tipikal Alex itu mengingatkan kepada sang Ketum PDIP Megawati yang “diserang” oleh Prabowo Subianto jelang Pilpres 2014 hingga Pilpres 2019, tapi tak mau dendam dan tidak menganggap sebagai musuh abadi melainkan hanya lawan politik. Dan justru punya andil untuk ‘mempersatukan’ dua kubu yang berlawanan.


Begitu pula Hidayat dan Erizal, dua kader Gerindra ini juga ‘meniru’ karakter Ketumnya, Prabowo Subianto, tidak dendam dan menjadikan musuh abadi. Dua kali Pilpres (2014 dan 2019) dikalahkan oleh Jokowi yang juga kader PDI-P, tidak memunculkan dendam. Tapi malah jiwa kesatria yang dikedepankan. Lawan diakui menang dan ketika pihak lawan meminta Prabowo bergabung, demi pengabdian untuk negara, Prabowo menerima tawaran itu.


Para tokoh yang beda parpol itu (Gubernur Mahyeldi juga Ketua DPW PKS Sumbar) di AFTA berkawan. Bersahabat dan saling menghargai. Apalagi Mahyeldi meski menjadi Gubernur Sumbar, tiba di AFTA, baju gubernur dilepas. Sama dengan Alex. Sama dengan Hidayat. Sama juga dengan sang Dirut Bank Nagari M Irsyad.


Di AFTA semua sama. Bercengkrama, bercanda dan juga ota-ota politik dan ota pertanian agak dominan. Rasa kebersamaan dan ‘tagak samo tinggi, duduak samo randah’ yang selalu tertanam dalam diri keluarga besar AFTA.


“Sekali kawan tetap menjadi kawan. Itulah AFTA,” kata Djoni, ketua Yayasan Afta, alumni angkatan 75.


(Effendi) 

loading...

Iklan Kiri Kanan





×
Berita Terbaru Update