Maraknya Wartawan Amplop dalam Dunia Jurnalistik
×

Adsense

Adsense Mobile

Maraknya Wartawan Amplop dalam Dunia Jurnalistik

Sabtu, 24 September 2022 | 00.00 WIB Last Updated 2022-09-24T06:38:06Z

Advertisement

Advertisement

Ilustrasi wartawan dan amplop
Ilustrasi.

Oleh: Shifa Zahira Viory

Mjnews.id - Jika berbicara mengenai wartawan, hal pertama yang muncul dalam benak adalah adalah berita, berita dan berita. Wartawan dan berita rasanya merupakan dua hal yang saling berkaitan. Karena jika tidak ada wartawan, maka tidak akan ada berita.

Menyampaikan informasi kepada masyarakat merupakan hal wajib yang wartawan lakukan sebagai pilar ke-4 demokrasi. Menjadi seorang wartawan yang baik bukanlah suatu hal yang mudah, seringkali ada beberapa hal yang membuat mereka melanggar kode etik jurnalistik. Salah satu contohnya yaitu wartawan amplop.

Lalu sebenarnya, apa itu wartawan amplop?

Jika kita mengartikan secara kasar, wartawan amplop atau yang sering dikenal sebagai wartawan bodrex merupakan sebuah julukan yang diberikan kepada wartawan yang menyalahgunakan profesi wartawannya guna memperoleh keuntungan (umumnya berupa uang) untuk kepentingan dirinya sendiri dan pihak yang memberi suap.

Pemberian amplop pada dasarnya bertujuan untuk mempengaruhi isi berita yang ditulis, bisa dalam bentuk penambahan narasi dalam berita yang menggiring opini pembaca hingga memanipulasi isi berita tersebut menjadi berat sebelah/hanya menguntungkan salah satu pihak.

Apa alasan dibalik banyaknya beredar wartawan amplop?

Kesejahteraan dan rendahnya rasa profesionalisme menjadi alasan utama. Uang merupakan hal yang penting dalam hidup. Memang uang bukanlah segalanya, namun segalanya butuh uang.

Sebagian wartawan juga memaknai bahwa pemberian amplop merupakan bentuk dari menjalin silaturahmi atau ucapan rasa terimakasih bukan bentuk suap, sehingga tidak akan melanggar kode etik jurnalis. Karena hal inilah, sebagian wartawan mulai menormalisasikan pemberian amplop.

Fenomena wartawan amplop ini tentu saja menyalahi kode etik jurnalistik. Namun perlu digarisbawahi, bahwa tidak semua wartawan dalam dunia jurnalistik itu merupakan seorang wartawan amplop. Masih ada beberapa wartawan yang tetap mempertahankan kode etik wartawan dengan tetap bekerja secara professional dan tidak menerima suap. Mereka inilah yang benar-benar layang menjadi mata dan telinga masyarakat.

Tentu saja fenomena ini bukanlah suatu hal yang harus dibiarkan begitu saja. Dengan adanya wartawan amplop ini akan merendahkan citra dari wartawan. Seorang wartawan amplop bukanlah bagian dari orang yang profesional, karena mereka lebih memikirkan kepentingan diri sendiri daripada kepentingan publik. Seorang wartawan amplop hendaknya dipidana karena telah melanggar kode etik jurnalistik.

Pelarangan menerima amplop ini sendiri diatur dalam Pasal 6 Kode Etik Jurnalistik yang berbunyi, ”Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan menyalahgunakan profesi“. Hal ini berarti bahwa seorang wartawan tidak boleh menyalahgunakan profesi dengan mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.

Pemerintah hendaknya lebih memikirkan mengenai kesejahteraan wartawan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberi upah atau imbalan yang layak, jaminan kesehatan, serta kontrak kerja yang jelas. Dan juga, seorang wartawan hendaknya sadar, bahwa ada kode etik yang harus mereka patuhi.

Seorang wartawan hendaknya harus sadar, bahwa ada azaz profesionalisme yang harus mereka patuhi. Jangan sampai masyarakat beranggapan, bahwa kode etik jurnalis hanyalah tempelan semata dan tidak untuk dipatuhi.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Andalas Padang

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update