LaNyalla : Amandemen Tahun 1999-2002 Merupakan Kecelakaan Konstitusi
×

Adsense

Adsense Mobile

LaNyalla : Amandemen Tahun 1999-2002 Merupakan Kecelakaan Konstitusi

Sabtu, 17 September 2022 | 22.00 WIB Last Updated 2022-09-17T15:00:00Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

LaNyalla bersama Try Sutrisno
LaNyalla bersama Try Sutrisno. (f/dpd)

Jakarta, Mjnews.id - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, memberikan pidato pada acara dialog kebangsaan yang mengusung tema kaji ulang UUD 1945 hasil amandemen menuju kembali UUD 1945.

Dalam pidatonya LaNyalla menyampaikan bahwa amandemen pada tahun 1999-2002 telah mengubah hampir 95 persen pasal-pasal batang tubuh UUD 1945 dan merupakan kecelakaan konstitusi dalam ketatanegaraan. 

"Namun sangat disayangkan banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa perubahan konstitusi itu telah meninggalkan Pancasila sebagai norma hukum tertinggi, karena isi dari pasal-pasal UUD tersebut justru menjabarkan ideologi lain yaitu, liberalisme dan individualisme," tegas LaNyalla, di Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen Senayan, Sabtu (17/9/2022). 

LaNyalla menambahkan masih banyak masyarakat yang juga tidak menyadari  bahwa perubahan itu telah membuat negara ini meninggalkan azaz kesejahteraan rakyat yang identik dengan konsep pemerataan ekonomi menjadi ekonomi pertumbuhan. 

"Hal ini tentunya memacu semakin banyak oligarki ekonomi baik swasta, baik swasta nasional maupun asing untuk menguasai sumber daya alam dan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak," kata LaNyalla. 

Turut hadir pula pada acara tersebut Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno. Dirinya menuturkan jika dahulu dikeluarkan dekrit presiden yang bertujuan mengembalikan carut marut dari UUDS, maka pada masa ini baiknya kita kembalikan lagi naskah asli UUD 1945 melalui istilah mengkaji ulang. 

"Bukan melarang amandemen, namun saya sampaikan bahwa amandemen 1999 hingga 2002 selain merubah batang tubuh juga sudah tidak berdasar kepada UUD 1945 maupun pancasila itu sendiri. Sehingga, saya rasa perlu kita adakan kajian ulang secara komprehensif dari ke empat amandemen tersebut mana yang sesuai dengan aspirasi masyarakat kita jadikan sebagai adendum, bukan merubah batang tubuh dan pasal pasal didalamnya," tegas Try Sutrisno 

Ketua Panitia penyelenggara, A Rasyid Muhammad dari Dewan Harian Nasional Badan  Pembudayaan Kejuangan 45 yang memprakarsai acara tersebut mengatakan bahwa gagasan acara ini berawal dari banyaknya artikel hasil diskusi diruang publik terutama antara LaNyalla dan Try Sutrisno tentang amandemen UUD 1945 tahun 1999-2002 dilakukan kurang cermat. 

Di akhir dialog, LaNyalla menawarkan kepada masyarakat Indonesia untuk menggelar rekonsensus nasional. 

"Saya tawarkan kepada bangsa ini untuk kita gelar rekonsensus nasional sebagai upaya untuk mengembalikan sistem demokrasi pancasila melalui UUD 1945 yang asli, untuk kemudian kita sempurnakan dengan cara yang benar, tanpa menghapus dan meninggalkan Pancasila," tutup LaNyalla.

(dpd/eds)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan



×
Berita Terbaru Update