Kunjungi ANRI, LaNyalla Lengkapi Data untuk Kembalikan UUD ke Naskah Asli

Lanyalla-kunjungi-ANRI
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti kunjungi ANRI. (f/dpd)

JAKARTA, Mjnews.id – Perjuangan mengembalikan UUD 1945 ke naskah asli untuk kemudian disempurnakan lewat adendum terus dilakukan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Data-data pun terus dilengkapi, termasuk dengan mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jl Ampera, Jakarta Selatan, Jumat (16/12/2022). 

LaNyalla yang datang didampingi Anggota DPD RI Bustami Zainudin, Sekjen DPD RI Rahman Hadi, Staf Khusus Ketua DPD RI Sefdin Syaifudin dan para Kabiro DPD RI, diterima langsung Kepala ANRI Imam Gunarto dan jajarannya.

ADVERTISEMENT

1672718317 zd2LclJzIi3V8sEfHHWPFagJbbGo8jsG

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kedatangan kami ke sini dalam dalam rangka pelurusan sejarah. Sesuai perjuangan kami mengembalikan kontitusi bangsa ini ke UUD 45. Kita sengaja hadir ke ANRI untuk melengkapi data pendukung naskah akademik yang kita buat,” kata LaNyalla.

Baca Juga  Barisan Pejuang Konstitusi Dukung Ketua DPD RI Kembalikan UUD 1945 ke Naskah Asli Melalui Dekrit Presiden

Senator asal Jawa Timur itu mengatakan sudah lama berbicara tentang kembali ke UUD 45 naskah asli. Meski sudah punya data, LaNyalla merasa kurang afdhol jika tidak melihat dokumen-dokumen asli.

“Makanya saya sengaja datang ke ANRI supaya bisa melihat bukti-bukti otentik perjalanan bangsa ini. Baik salinan, risalah rapat sidang BPUPKI, PPKI maupun pertemuan-pertemuan para tokoh perintis kemerdekaan. Dari situlah kami bisa merasakan suasana kebatinan yang sebenarnya. Tentu selain sebagai data pelengkap, hal ini akan menambah kekuatan kami dalam berjuang,” tuturnya.

Ditambahkan LaNyalla, DPD RI juga memerlukan data maupun dokumen yang berkaitan dengan proses Amandemen Konstitusi yang terjadi pada tahun 1999 hingga 2002. 

Baca Juga  UUD 1945 Naskah Asli Tak Kenal Sistem Bikameral, LaNyalla: Harus Diperbaiki Lewat Teknik Addendum

“Kita ingin tahu apa di benak para pelaku amandemen saat itu melalui risalah-risalah sidang di MPR, mengapa bisa mengubah total rumusan para pendiri bangsa menjadi konstitusi baru,” tuturnya.