Menolak Lupa! Seorang Mahasiswa Jepang Pernah Membantah Sejarah Lubang Jepang
×

Adsense

Adsense Mobile

Menolak Lupa! Seorang Mahasiswa Jepang Pernah Membantah Sejarah Lubang Jepang

Sabtu, 11 Desember 2021 | 15:30 WIB Last Updated 2021-12-11T12:32:09Z


loading...

Ruang amunisi Lubang Jepang
Ruang amunisi Lubang Jepang di Kota Bukittinggi.

Oleh: Jefri Wahyudi

Mjnews.id - Lubang Jepang merupakan salah satu tempat wisata bersejarah di Kota Bukittinggi, lokasinya di Jalan Panorama, Bukit Cangang Kayu Ramang, Kecamatan Guguk Panjang. Tentunya lubang Jepang merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi untuk berwisata, karena banyak sisi menarik sejarah yang bisa dilihat di sana. Seperti mengingat perjuangan rakyat terdahulu dalam masa penjajahan Jepang.

Lubang Jepang yang memiliki panjang 1,4 km itu memiliki banyak ruangan, yang digunakan untuk pertahanan Jepang pad perang dunia II.

Saat pertama masuk, pengunjung diharuskan turun tangga, di dalam banyak sekali ruangan seperti penjara, ruang amunisi dan sebagainya. 

Sejarah Lubang Jepang yang merupakan tempat pertahanan Jepang dan mempekerjakan masyarakat awam dengan paksa (romusha), dan banyak korban yang mati dibunuh di dalam lubang tersebut.

Tetapi sejarah tentang Lubang Jepang yang diketahui masyarakat Indonesia tersebut, pernah dibantah oleh seorang mahasiswa Jepang, di mana Dia mengungkapkan bahwa hal tersebut tidak benar.

Nama mahasiswa itu adalah Junya Sasano, , (22 tahun),  asal Universitas Tokyo yang membantah sejarah Lubang Jepang banyak yang keliru.

Kejadian itu terjadi pada 20 Maret 2017, saat mahasiswa Jepang melakukan pertukaran mmahasisa ke Indonesia. Hal tersebut dikutip dari klikpositif.com.

Junya menyampaikan hal tersebut dengan berbahasa Indonesia, bahwa tidak ada pembunuhan di sana, dia juga mengatakan sejarah tentang Lubang Jepang di Indonesia itu keliru. 

Bersumber dari buku yang ia baca, ditulis oleh Hiroshi Kato pada 17 April 2007, tentang bekas Perwira Tentara Jepang Hirotada Hanjo, yang ikut dalam pembuatan lubang Jepang. 

Dia juga menambahkan tentang pekerjaan Romusha (pekerjaan paksa). bahwa hal tersebut tidak benar, karena pekerja di sana di gaji harian, dan menjadi buruh.

Di Lubang Jepang, ada beberapa ruangan yang terbagi untuk ruangan tertentu, salah satunya penjara, tetapi Junya menyangkal hal tersebut bahwa di sana tidak ada penjara.

Junya juga mengatakan, kalau hal itu berawal dari cerita seorang dosen yang tidak disebutkan identitasnya, menceritakan keburukan Jepang membuat hal tersebut viral di Jepang.

Cerita tentang 3000 orang lokal yang bekerja di sana dibunuh untuk menjaga rahasia militer Jepang.

Tidak sampai di sana, ia juga membantah apa saja yang disampaikan oleh guide (pemandu wisata) lokal banyak keliru, seperti ruang dapur yang sebenarnyanya tidak ada, dan Lubang Jepang yang merupakan tempat perlindungan bukan tempat pertahanan.

Dengan itu, Junya meminta agar guide lokal tidak keliru dalam menyampaikan informasi tentang lubang Jepang lagi, dan ia menyempatkan untuk meminta maaf kepada masyarakat Indonesia, yang utama untuk Kota Bukittinggi, karena telah merusak alam di masa perang.

Yulman pada saat itu yang masih menjadi Kabag Humas Pemerintah Kota Bukittinggi menyampaikan bahwa Dia menghargai informasi yang disampaikan oleh Sunya, tapi tentunya tidak menerima semuanya secara mentah-mentah, karena merubah sejarah itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Penulis Hiroshi Kato pernah datang ke Bukittinggi tahun 2005 untuk meluruskan sejarah Lubang Jepang yang dibuatnya. 

(***)

Penulis, Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Bukittinggi

Iklan Kiri Kanan

Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update